Jumat, 19 Juni 2009

Mampu Ekonomi Syariah Menggantikan Kapitalisme?

Mampukah Ekonomi Syariah Menggantikan Kapitalisme?

Sistem ekonomi syariah yang dimotori oleh perbankan syariah sekarang sedang naik daun. Hampir semua bank memiliki divisi syariahnya. Perbankan ini juga disinyalir tahan uji, karena menerapkan sistem tanpa riba dan hampir 100% bergerak di sektor riil. Benarkah sistem ini bisa menantang kapitalisme?
Kapitalisme mengalami cobaan berat. Krisis telah berlangsung berkali-kali mendera sistem ini. Sistem ini terlihat tidak stabil. Krisis ini dianggap sebagai kegagalan. Wajar saja berbagai pihak mulai mencari sistem alternatif.
Kebetulan sekali sistem perbankan dalam kapitalisme menggunakan ’sistem bagi hasil’ yang nilai bagi hasilnya ditetapkan di depan. Dan ini dinamakan riba. Kemudian dengan mudahnya orang menuding riba inilah sebagai penyebab kegagalan kapitalisme.
Ada berbagai wawasan yang perlu dikembangkan dalam menyikapi pengembangan ekonomi syariah termasuk perbankan syariah dengan menarik pelajaran berharga dari sistem kapitalisme yang pada banyak hal sistem ini berhasil menyejahterakan rakyat.
* * *
Saya teringat pelajaran di buku biologi SMP tentang keseimbangan ekosistem. Di dunia ini sudah takdirnya serigala memangsa rusa. Namun sekitar tahun 1960 an di Amerika Serikat, terjadi gerakan pencinta rusa yang bertekad untuk melindungi rusa dari serigala pemangsa. Usaha ini berhasil, banyak serigala mati tertembak sehingga banyak rusa bisa selamat.
Keadaan bahagia ini ternyata tidak berlangsung lama. Membunuh serigala berarti merusak keseimbangan ekosistem. Karena bebas dari pemangsa, populasi rusa melonjak pesat. Makanan rusa berupa daun-daunan ternyata tidak cukup untuk menghidupi seluruh populasi rusa. Akhirnya banyak rusa itu mati kelaparan.
Pelajaran penting di sini adalah kita melihat suatu hal yang baik ataupun buruk dalam kacamata yang sempit, tanpa terlalu memperhitungkan sistem yang lebih besar.
Sama seperti halnya ekonomi syariah termasuk perbankan syariah sangat menekankan larangan riba. Suatu kehati-hatian tingkat tinggi terhadap sistem keuangan. Apakah kehati-hatian ini bisa merusak sistem yang lebih luas?
Dalam buku The World is Flat, Thomas Friedman, ada kisah seperti ini. Pada suatu ketika ekonomi ”dotcom” tumbuh gila-gilan. Setiap 15 detik ada 1 perusahaan ”dotcom” yang “go public”. Semua investasi tumpah ruah di sektor ini sehingga akhirnya timbul gelembung. Investasi menjadi tidak rasional yang tidak sesuai dengan kenyataan riil keadaan bisnis. Akhirnya gelembung ini pecah.
Kemudian Bill Gates memberi jawaban yang membuka wawasan soal gelembung ini. Gelembung memang pecah. Tapi investasi besar-besaran telah membuat banyak talenta terbaik memberikan sumbangan inovasi di sektor ini. Inovasi ini terbukti mengembangkan ekonomi dunia.
Bill Gates membandingkan keadaan gelembung ini dengan demam emas di Amerika Serikat di masa lalu. Ketika itu lebih banyak bisnis Levis’s, cangkul, sekop, hotel yang berkembang daripada bisnis emas itu sendiri.
Terbukti gelembung investasi itu tidak sia-sia. Bisnis di dunia menjadi sangat berkembang akibat inovasi-inovasi yang dilakukan di masa-masa gelembung ”dotcom”. Bahkan negara seperti India sangat bersyukur dengan gelembung ”dotcom” ini. Kabel serat optik dari Amerika Serikat dan Eropa ke India sudah terlanjur dipasang di masa gelembung. Ketika gelembung pecah, kabel sudah tertanam dan tidak mungkin digali kembali. Ongkos internet dari benua-benua ini menjadi sangat murah. Bakat-bakat terbaik India akhirnya mendapat jalan untuk terhubung dengan kemakmuran Barat dengan mengambil manfaat dari ‘outsourcing’. Bukankah ini juga berarti kecerobohan di sektor keuangan justru mendatangkan kemakmuran berikutnya?
Kehatian-hatian di sektor keuangan itu sangat baik. Tapi apakah dengan terlalu mengatur lembaga keuangan tidak berakibat fatal bagi inovasi? Saya kira kita perlu memiliki tingkat kewaspadaan yang sama terhadap pembunuhan serigala yang kejam itu, tapi kemudian itu terbukti fatal bagi kelangsungan hidup rusa itu sendiri.
* * *
Inovasi adalah kunci dari kemajuan dunia saat ini. Dan sampai batas tertentu dibutuhkan kecerobohan keuangan untuk mendapatkan inovasi ini. Sebagai contoh kiprah investor bernama Andy Bechtolsheim yang sangat ternama di dunia ”’dotcom”’. Setelah duet Sergey Brin dan Larry Page selesai melakukan presentasi di hadapannya, tanpa banyak basa basi, tanpa bicara apa-apa soal detail, Bechtolsheim kemudian menuliskan cek 100.000 dolar untuk modal Google Inc. Padahal perusahaan Google ini sama sekali belum resmi berdiri!
Tidak semua kesembronoan ala Bechtolsheim ini berhasil. Begitu banyak perusahaan ”’dotcom”’ terkubur dan hanya beberapa yang selamat. Namun dari beberapa yang selamat inilah yang terbukti menggairahkan ekonomi dunia.
Kemakmuran – di dunia kapitalis – saat ini dibangkitkan oleh inovasi. Ini nuansa yang perlu dipahami semua orang. Kemakmuran kapitalisme sama sekali bukan dibangun di atas tumpukan ide-ide yang menjamin kestabilan. Semua terjadi dalam suasana terlihat seperti “chaos” yang tak beraturan, penuh resiko, yang gampang terkena krisis.
Tentu saja kapitalisme tidak tinggal diam dengan faktor “chaos” ini. Baru-baru ini Presiden Obama mengumumkan rencana perombakan sistem keuangan AS. Perusahaan besar yang berpotensi merusak sistem finansial akan diawasi ketat oleh satu lembaga khusus.
Pengembangan ekonomi syariah seharusnya juga memperhatikan faktor “chaos”, faktor-faktor gelembung-gembung ekonomi yang ternyata bisa menopang inovasi ini. Ketika sektor keuangan terlalu dicekik, terlalu dibatasi geraknya mungkin kita akan kehilangan inovasi.
Sistem keuangan syariah barulah dalam skala kecil, apakah jika dalam skala besar sistem ekonomi ini akan mematikan inovasi? Jika sistem keuangan sekarang sudah dieliminir sisi kecerobohannya, sementara itu inovasi sebagai bahan bakar peradaban mendapat suasana kondusif dalam sistem keuangan sekarang, apakah kita masih butuh sistem keuangan yang lain?

sumber; Erwin Wirawan
ditulis kembali pada 20 Juni 2009

0 Comments:

© Kontak : Herman_bismillah@Yahoo.co.id