Senin, 29 Juni 2009

M e g a t r u h

Aku pernah begitu membenci sosok pribadi yang bernama Aku. Pertama kemungkinan karena Aku terlahir disini, Indonesia, sebuah nama dan sebutan yang secara defacto atau the jurre di-Aku-I eksistensinya. Namun bagi Aku, nama itu dari sudut dan sisi manapun kulihat, akan tampak tambahan-tambahan ibarat sebuah kain yang sudah usang dan membutuhkan pemahaman baru untuk menyulam kembali tenunan itu, dan bak seorang penenun kain yang mengurai tenunannya kembali. Kedua karena Aku pikir ke-Aku-an ini terpengaruh oleh ke-Indonesia-anku, lalu bagaimana jika Aku hidup dan terlahir di Cina tempat lahirnya Kong Hu Cu, atau di India tempat lahirnya Budha Gautama, atau di Yunani tempat lahirnya Plato, atau di Prancis tempat lahirnya Rene Descartes, atau mungkin di Makkah tempat lahirnya Yang Mulia Nabi Muhammad SAW, yang lebih mengetahui ke-Aku-an mereka.
Dan ketiga, karena ke-Aku-an ku kini hendak Aku gantikan dengan kewesternisasian, kekapitalanku, kehedonisanku, dan ke-isme-isme yang lainnya, tanpa pernah Aku kembali perduli bahwa disini, Indonesia pernah tertanam ke-Aku-an oleh Chairil Anwar, para Foundhing Father, Patih Gajah Mada, atau Ibu Pertiwi.
Entah karena apa Aku juga pernah membenci sebuah kata yakni Indonesia, mungkin karena saat ini Aku masih hidup dan tinggal disini, atau karena alasan teman, saudara, sahabat, atau orang tua yang masih menghendaki Aku memiliki rasa nasionalisme untuk Indonesia ini. Aku membenci Aku dan Indonesia, lantaran Aku hidup dan dibesarkan disini, lantaran badut-badut serakah nan lucu menjadi tetangga keseharianku, lantaran setiap detik menerima kenyataan harus teriming-imingi oleh pengaruh konsumerisme yang membingungkan, materialisme yang mengharukan atau westernisasi dan modernisasi yang setiap saat menyerang sendi-sendi tulang tangan, kaki dan hatiku.
Aku pernah juga merasa, mungkin untuk sekedar untuk tidak menghirup oksigen dialam bebas akan lebih baik jika dibandingkan dengan keracunan udara dan hati yang terus menyerangku bak virus ganas yang mengintai mangsanya tiap saat, tiap waktu sekalipun, karena setiap keseharian keadaan yang kulihat dikelilingi oleh tengkorak-tengkorak berjalan yang siap memangsa sesamanya, mengitari gedung-gedung pencakar langit dengan papan nama disebelah kiri dan kanan yang menganga meminta diisi oleh lembaran uang ratusan atau ribuan, perahan keringat si miskin, tangisan bayi kelaparan dan sederet kisah memilukan lainnya.
Atau para raksasa buas dengan pakaian elitnya, limolsien ala Amriknya, atau gantungan kredit card dikunci mobilnya, dan gantungan para wanita cantik dibahu sebelah kirinya. Kehidupanku kini mungkin tidak baik, baik bagi kelanjutan ke-Aku-an-ku. Karena itulah Aku menolak, karena keadaan yang tiap hari Aku tak bisa, tak mampu dan tak sanggup menghadapinya, terlebih hanya untuk menarik nafas panjang menghilangkan keresahan, tak tahu meski bagaimana, harus apa dan bagaimana, berteriak dikira pahlawan kesiangan, turut berdemonstrasi dikira pesanan. Aku menolak karena Aku merasa telah dikecewakan oleh tanah tumpah darah bundaku, tanah yang telah diagungkan oleh Cicit Buyutku, oleh para Foundhing Father, oleh Khairil Anwar, atau oleh Maha Patih Gajah Mada.
Aku hanya bisa diam, tidak terendam, namun menyusun strategi perhitungan. Untuk satu kata Perubahan. Untuk ke-Aku-anku, untuk ke-Indonesia-anku, untuk nasionalisme para founding Father, untuk Ukhuwah Sang Guru, untuk Sumpah Palapa Patih Gajah Mada, untuk ke-Aku-an Khairil Anwar, dan sederet sumpah 1908.
Untuk ke-Aku-an kini harus kulakukan, tak berbekal Rudal Scud Irak, Rudal Tom Hawk Amerika, kini Aku harus jalankan hanya dengan keinginan dan kemauan untuk satu perubahan, kata sakti dari pak Imin, dimana ada kemauan disitu ada jalan, menjadi senjata pemusnah masal yang dapat diguncangkan, menjadi ‘bom Islam’ yang dapat diledakkan, ditambah keyakinan dengan do’a karena Aku berkeTuhanan.
Dengan modal itu, seperti serdadu dimedan laga, seperti Bima dengan gadanya, seperti Arjuna dengan busurnya, Cut Nyak Dien dengan Rencongnya, ditambah Muhammad SAW dengan ajaran sucinya. Aku meski melawan. Terlempar kearah kalian dengan berharap kalian akan ikut untuk menyemarakkan, atau sekedar menjadi penonton dipinggiran dengan menebar pesona pro dan kontra dalam setiap kesempatan. Terserah.
Ini bukan perang duni II, bukan perang Salib atau Perang Teluk, atau Perang Pimpinan Koalisi, atau perang lain yang disebutkan. Inilah perang suci untuk sebuah eksistensi, ke-Aku-an, ke-Indonesia-an. Seutuhnya.
Tanpa gaya seksi ala Madona, gaya Macho ala Tom Cruise, atau gaya Bollywood ala India, atau westernisasi dan modernisasi yang tak bertanggungjawab ala Amerika, terlebih Eropa, atau gaya Padang Pasir ala Timur Tengah. Tapi Aku yang hendak Aku tegakkan yakni, Indonesia dengan eksistensinya, dengan semangat kegotongroyongannya, dengan kekeluargaannya, untuk satu generasi yang telah hilang itu mutlak untuk dikembalikan atau dengan sebuah kata pengabdian: sebuah Kewajiban.Ke-Aku-an, ke-Indonesia-an yang : Pertama, tanpa mendapat deraan dan tekanan sosial politik dan ekonomi yang berpengaruh terhadap psikologi ke-Aku-an dan keIndonesiaan. Kedua, Ke-Aku-an dank ke-Indonesia-an yang mampu menjelaskan siapa diri, kelompok atau bangsanya secara adukuat yang dilandasi oleh rasa percaya diri, semangat nasionalisme dan kesucian keyakinan yang mengakar. Ketiga, ke-Aku-an yang mampu berdiri sendiri, yang berani mengatakan sepakat untuk tidak sepakat. Dimana tidak ada lagi ke-Aku-an, keIndonesiaan yang hilang dari problemasi, tantangan kebutuhan dan tidak akan hilang dari romantika dan dinamika zamannya

0 Comments:

© Kontak : Herman_bismillah@Yahoo.co.id